[Cuman Cerita] Cinta Rahasia Bima

Prolog

Hujan mengguyur Jakarta sejak pagi dan menyisakan gerimis sore ini. Beberapa ruas jalan utama tergenang. Kemacetan tak bisa dihindarkan.

Untari masih tersedu di samping makam Bima. Sejak dikuburkan bersama gerimis siang itu, Untari tak sanggup menahan segenap rasa kehilangan di hatinya. Kesedihan telah mengambil alih pribadinya yang ceria. Lenyap sudah seluruh persediaan senyuman yang biasanya tak pernah lepas tersungging di bibirnya.

“Kenapa kamu harus pergi, Bim?” bisik Untari sembari menyeka airmata yang masih melelehi pipinya. “Bagaimana aku bisa hidup tanpamu, Bima. Aku sudah terbiasa bersamamu. Aku tak tahu cara hidup tanpamu.”

Isak kecilnya kini berubah menjadi sedu sedan yang begitu menyedihkan bagi siapa pun yang mendengarnya. Memang, tanah pemakaman itu hampir kosong. Hanya ada Untari dan Pak Diman, sopir keluarga yang ditugaskan oleh orangtua Untari untuk menunggu sampai Untari siap pulang. Tapi, tak jauh dari blok makam Bima, seorang lelaki di bawah payung oranye yang dipegangnya mengawasi Untari sejak prosesi penguburan mulai diselenggarakan.

Anggara sudah berada di makam, hampir bersamaan dengan kehadiran Untari. Dia pun ikut menyertai rombongan pelayat sejak meninggalkan rumah orangtua Bima. Karena tak saling mengenal, Untari seolah tak menyadari keberadaan Anggara. Terlebih, Anggara memang menahan diri untuk terlalu dekat dengan Untari.

Anggara tahu bahwa Untari adalah kekasih Bima. Bahkan mereka sebentar lagi bertunangan, kalau saja musibah maut itu tak merenggut nyawa Bima. Tapi yang tak diketahui Untari, dan sebagian besar orang dekat Bima, Anggara pun memiliki ikatan kuat dengan Bima. Ikatan yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua. Maka, dunia Anggara pun serasa runtuh tatkala mendapati kabar bahwa Bima meninggal dunia. Jadi, tak hanya Untari yang bersedih, Anggara juga punya hak untuk meratapi kepergian Bima.

Gelap mulai menggelayuti langit. Beberapa kali kilat dan suara guntur memecah kesunyian makam. Dua orang tak saling kenal itu, yang basah karena gerimis yang masih turun, termangu dalam kesedihan masing-masing. Lalu, Anggara memutuskan meninggalkan makam itu lebih dulu dan berjanji akan datang lagi esok hari.

Hari ini, ia tak bisa mendekat ke makam karena Untari tak beranjak sejengkal pun dari makam itu. Dia pasrah. Dan, ia tak mau mengambil risiko seandainya Untari menyadari kehadirannya dan mengajukan pertanyaan yang tak mungkin dijawabnya. Janjinya pada Bima, meskipun ia telah pergi, akan tetap dijaganya. Janji untuk merahasiakan ikatan di antara mereka.

Anggara dengan payung oranyenya melangkah menuju area parkir, masuk ke mobilnya, dan segera meluncur meninggalkan tanah pemakaman. Sementara Untari masih menyusut airmata dan tak henti-hentinya membisikkan rindunya pada Bima. Di belakangnya Pak Diman mencoba membujuk Untari untuk pulang. Meskipun awalnya menolak, pada akhirnya Untari pasrah saja ketika Pak Diman membimbingnya menuju mobil untuk kemudian melaju meninggalkan tanah pemakaman itu.

“Aku akan datang lagi besok, sayang,” bisik Untari sembari kembali menangis. Kali ini dibiarkannya suara tangisnya pecah. Tak lagi ditahannya isaknya.

—bersambung.

One thought on “[Cuman Cerita] Cinta Rahasia Bima

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s